inparametric.com

GNU/Linux | Behavior | Higher Education | SPSS | Statistics |




Aspek Kebahasaan Indonesia Dalam Karya Tulis Akademik/Ilmiah/ Kesarjanaan

21 August, 2007 (05:26) | Education | By: Bhina Patria | Viewed 2390 times

Oleh: Dr. Suwardjono
Fakultas Ekonomika UGM

…kalangan akademik sering telah merasa mampu berbahasa Indonesia sehingga tidak merasa perlu untuk belajar bahasa Indonesia atau membuka kamus bahasa Indonesia (misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia). Akibatnya, orang sering merasa lebih asing mendengar kata bahasa sendiri daripada mendengar kata bahasa asing. Anehnya kalau orang menjumpai kata asing (Inggris) yang masih asing bagi dirinya, mereka dengan sadar dan penuh motivasi berusaha untuk mengetahui artinya dan mencarinya di dalam kamus dan tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa kata itu aneh. Akan tetapi, kalau mereka mendengar kata bahasa Indonesia yang masih asing bagi dirinya, dia merasa itu bukan bahasanya dan akan bereaksi dengan engatakan “Apa artinya ini, kok aneh-aneh?” dan berusaha untuk tidak pernah tau apalagi membuka kamus dan menggunakannya secara tepat.

Read more »

Kearifan dalam Transformasi Pembelajaran: dari Teacher-Centered ke Student-centered learning

20 August, 2007 (10:00) | Education | By: Bhina Patria | Viewed 1270 times

Oleh: Prof. Dr. Harsono
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Wisdom is not the product of schooling but the lifelong attempt to acquire it.
Albert Einstein

Pengantar
Perubahan paradigma didorong oleh hasil analisis mutakhir yang menunjukkan
bahwa sistem yang dianut tidak lagi memberi hasil atau keuntungan yang memuaskan.
Perubahan paradigma membawa perubahan mindset, dan perubahan mindset membawa
implikasi operasional sejalan dengan tujuan yang akan dicapai oleh perubahan
paradigma. Apabila digambarkan sebagai suatu bagan alir, maka perubahan di satu titik
akan mempengaruhi aktivitas berikutnya, baik dalam aliran linear maupun paralel,
sehingga tampak gambar networking yang kompleks.

Kompleksitas networking tadi perlu dikelola secara efisien, terukur, terpantau, dan
terpadu agar tujuan perubahan paradigma dapat tercapai secara mudah dan ekonomis.
Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan penataan ulang organisasi yang di dalamnya
terkandung kearifan agar tidak terjadi benturan maupun selisih pendapat yang tajam, atau
untuk meminimalisasi masalah yang timbul sebagai akibat dari perbedaan pendapat.
Kearifan memerlukan sinergi dan keterpaduan intelligent quotient, emotional quotient,
dan spiritual quotient. Kearifan yang telah dimiliki oleh para staf senior perlu
diorganisasi dalam aktivitas yang rasional, mudah dipahami dan diikuti oleh orang lain,
serta menimbulkan inspirasi di kalangan para staf yunior dan para mahasiswa sehingga
tercipta suatu gerakan saiyeg saeka kapti, saiyeg saeka praya (bahu-membahu dalam satu
tekad yang bulat). Dapat dipastikan bahwa setiap langkah pembaharuan atau perubahan
akan menimbulkan gejolak; dalam hal ini diperlukan manajemen perubahan agar gejolak
yang timbul dapat diminimalisasi.

Read more »

Analisis Deskriptif: Seri Tutorial SPSS 04

20 August, 2007 (01:00) | Statistics | By: Bhina Patria | Viewed 2266 times

Fungsi analisis deskriptif adalah untuk memberikan gambaran umum tentang data
yang telah diperoleh. Gambaran umum ini bisa menjadi acuan untuk melihat karakteristik
data yang kita peroleh. Analisis deskriptif sering diabaikan penggunaannya dalam
penelitian-penelitian sosial, karena memang dalam beberapa fungsi analisis lainnya
otomatis tercantum analisis deskriptif. Saya sangat menganjurkan untuk mengawali
analisis deskriptif sebelum melakukan analisis lainnya pada data anda. Hal ini sangat
penting karena dengan analisis deskriptif kita bisa mengkoreksi secara cepat data yang
sudah kita masukkan.

Read more »

Belajar-Mengajar di Perguruan Tinggi: Redefinisi Makna Kuliah

18 August, 2007 (14:24) | Education | By: Bhina Patria | Viewed 1986 times

oleh: Suwardjono
Fakultas Ekonomika UGM

Belajar di perguruan tinggi merupakan pilihan strategik untuk mencapai tujuan individual bagi mereka yang menyatakan diri untuk belajar melalui jalur formal tersebut.Namun, realitas yang dihadapi oleh dosen dan penyelenggara pendidikan dalam banyak hal jauh dari harapan. Perilaku mahasiswa dan dosen dalam belajar-mengajar tidak menunjukkan segala atribut yang seharusnya melekat pada individual yang akan mendapat sebutan sebagai sarjana. Salah satu faktor yang menciptakan kondisi seperti ini adalah kesenjangan persepsi dan pemahaman penyelenggara pendidikan, dosen, dan mahasiswa mengenai makna belajar di perguruan tinggi.

Makalah ini mengevaluasi kondisi budaya belajar-mengajar yang penulis amati dan rasakan selama menjadi staf pengajar di beberapa perguruan tinggi. Kondisi tersebut tidak kondusif untuk menciptakan suasana akademik, profesional, dan ilmiah yang seharusnya melekat pada suatu institusi yang menyelenggarakan pendidikan tinggi (higher education). Pengamatan tersebut telah lama terjadi dan telah penulis sampaikan dalam bentuk artikel lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Sejak penulisan artikel tersebut, penulis selalu menyampaikan gagasan tentang pola pengajaran, proses belajar mengajar, dan masalah-masalah yang berkaitan dengan penyelenggaraan kuliah dalam berbagai seminar dan lokakarya di berbagai perguruan tinggi. Namun sampai saat ini, tampaknya belum ada suatu perubahan yang cukup berarti dalam budaya belajar-mengajar di perguruan tinggi.

Read more »