4,317 Views

Kontroversi Pernikahan Beda Agama

Judul buku: Memoar Cintaku, Pengalaman Empiris Pernikahan Beda Agama
Penulis : Ahmad Nurcholish
Pengantar: KH. Abdurrahman Wahid, Djohan Effendi
Penerbit: LkiS Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Oktober 2004
Tebal: xlvii + 356 hal

Pernikahan beda agama memang bukan merupakan hal yang baru lagi di masyarakat Indonesia yang multi kultural. Tidak hanya di masyarakat umum, di lingkungan selebritis pun pernikahan semacam ini sudah berlangsung sejak lama. Sekedar menyebut beberapa pasangan, Jamal Mirdad (Islam) dan Lydia Kandou (Kristen); Nurul Arifin (Islam) dan Mayong (Katolik); dan tentu saja yang masih segar dalam ingatan kita adalah pasangan Ari Sihasale (Kristen) dan Nia Zulkarnaen (Islam). Mungkin karena atribut keartisan yang mereka sandang maka pernikahan beda agama dilingkungan selebritis terasa lebih bisa dimaklumi dibandingkan dengan ketika terjadi di khalayak masyarakat umum.

Pernikahan beda agama selalu saja menuai kontroversi dan polemik di kalangan masyarakat umum. Fenomena pernikahan semacam ini semakin menuai kontroversi tatkala terjadi di kalangan aktivis pergerakan Islam yang notabene adalah insan-insan yang lebih paham akan agama dibanding khalayak pada umumnya. Tema inilah yang diangkat dalam memoar ini. Penulisnya, Ahmad Nurcholish yang seorang muslim, mengungkapkan pengalaman pribadinya yang mempersunting gadis keturunan Tionghoa (Ang Mei Yong), penganut agama Khonghucu yang taat.


Pada bagian awal buku, penulis menyajikan perjalanan masa kecilnya di Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah yang selalu dekat dengan nuansa nyantri di pondok pesantren beserta keterlibatan dalam berbagai organisasi. Di lanjutkan dengan kisah kehidupan penulis setelah hijrah ke Jakarta yang juga masih diwarnai kegemaran beraktivitas dalam organisasi keislaman. YISC (Youth Islamic Study Club) Al-Azhar, Paramadina, IIMaN (Indonesian Islamic Media Network), Tazkia Sejati dan HMI adalah beberapa organisasi yang diakrabi oleh penulis. Keterlibatan dalam aktivitas di organisasi-organisasi inilah yang memperluas wawasan pemikiran keagamaan penulis. Diskusi-diskusi intens yang dilakukan secara bertahap mengubah halauan sikap keberagamaan penulis dari eksklusif-konservatif menjadi inklusif-pluralis (hlm 39). Selain aktif pada organisasi keislaman, penulis juga terlibat di organisasi antar umat beragama yaitu Forum Dialog Generasi Muda Antar-iman (GEMARI). Di organisasi inilah penulis bertemu dengan Ang Mei Yong yang kemudian menjadi istrinya.

Pada bagian selanjutnya kita akan memasuki inti dari buku ini yaitu seputar pelaksanaan pernikahan beda agama yang mengundang kontroversi. Munculnya pro dan kontra dari kedua pihak keluarga pasangan secara mengejutkan bisa diatasi tanpa halangan yang berarti. Tantangan yang lebih berat ternyata justru muncul dari lingkungan organisasi yang diikuti penulis. Perdebatan pro dan kontra diantara sesama aktivis yang semakin memanas akhirnya memaksa penulis untuk mengundurkan diri dari kepengurusan di YISC Al Azhar. Terungkap pula ketegangan yang terjadi pada malam sebelum perkawinan yang nyaris membuat proses pernikahan batal dilaksanakan.

Masa-masa kehidupan setelah menikah dipaparkan pada bagian selanjutnya. Dari masalah perbedaan selera makan, keengganan Kantor Catatan Sipil (KCS) mencatat pernikahan mereka, sampai rencana dan strategi dalam membesarkan anak kelak terekam dengan menarik. Proses penyesuaian dan pengelolaan konflik yang dihadapi oleh pasangan ini diungkapkan pula dalam bagian ini. Buku ini ditutup dengan pendapat para teolog yang pro dengan pernikahan beda agama dan juga sorotan media massa terhadap model pernikahan yang mereka lakukan.
Hal yang menarik adalah penulis menyebutkan bahwa pernikahan beda agama yang dilakukannya adalah suatu proses “eksperimentasi” (hlm 102). “Eksperimen” ini dilakukan penulis untuk menguji kebenaran asumsi yang berkembang di masyarakat bahwa pernikahan beda agama akan memunculkan banyak konflik dan rentan terhadap ketidakharmonisan yang akan bermuara pada perceraian. Penulis berusaha menegaskan bahwa perbedaan agama dalam sebuah perkawinan bukanlah sumber dari ketidakharmonisan ataupun potensi konflik selama perbedaan ini bisa disikapi secara arif dan dewasa. Penulis juga berusaha meletakkan dasar-dasar teologis boleh tidaknya pernikahan beda agama dilakukan oleh umat Islam.

Buku ini mempunyai makna yang begitu kuat karena merupakan pengalaman empiris dari pelaku pernikahan beda agama dan bukan dari sudut pandang para pengamat semata. Namun dengan mengusung “memoar” sebagai judul buku, seharusnya penulis bisa mengeksplorasi tahap-tahap kehidupannya secara lebih mendalam. Penulis sebenarnya bisa menggambarkan lebih mendetil lika-liku kehidupannya, aktivitas organisasinya beserta intrik-intrik yang menyertai ketika memutuskan untuk melakukan pernikahan dengan pasangan yang tidak seagama. Alih-alih melakukan eksplorasi yang lebih mendalam tentang hal tersebut penulis justru memasukkan tulisan-tulisan dari tokoh-tokoh intelektual-spiritual (teolog) yang pro terhadap pernikahan beda agama. Penulis seakan kehabisan kata-kata sehingga harus meminjam pemikiran dari para ahli untuk menguatkan argumennya tentang pernikahan beda agama. Selain itu penulis juga memasukkan transkrip dari forum-forum diskusi yang berkesan bertele-tele dan cenderung menjelma menjadi debat kusir. Pemuatan artikel dari beragam media yang membahas perkawinan mereka pada bagian akhir buku ini sebenarnya cukup menarik. Namun akibat dari pemuatan artikel-artikel ini, pembahasan yang berulang-ulang pada topik yang sama tidak bisa terhindarkan sehingga terasa agak membosankan.

Secara keseluruhan buku ini cukup informatif tidak saja bagi pasangan yang menghadapi kasus yang sama dengan penulis tapi juga bagi Anda yang tertarik dengan isu-isu kontemporer dunia Islam. Selain bisa menambah pengetahuan dan wawasan buku ini bisa menjadi salah satu sarana refleksi diri mengenai kualitas pemahaman kita terhadap Islam.
Bhina Patria
Peminat buku tinggal di Bantul

(Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat)

No related posts.

33 thoughts on “Kontroversi Pernikahan Beda Agama

  1. ulu

    Kalau menurut pandangan saya, perkawinan beda agama, sebenarnya bukanlah hal yang luar biasa. Kenapa ? Saya sedikit kutip kata-kata mutiara yang bunyinya seperti ini : Apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai. artinya simple aja, bahwa masing-masing manusia akan bertanggungjawab atas perbuatannnya sendiri dihadapan Tuhannya. Berati Dosa istri tidak dapat dipikul oleh si suami dan demikian sebaliknya, termasuk dosa-dosa keturunanna (anak). Masing2 memikulnya sendiri. Ketentuan agama ? Kalau saya lebih yakin kepada campur tangan Tuhan dalam pergulatan kehidupan insan. Kalau Tuhan sudah berkehendak mempertemukan dua insan belainan jenis dan berlainan agama, kog manusia dan agama yang menjadi repot dan marah ?!. Kenapa orang yang berbeda latar belakang budaya yang tidak ditentang ? Padahal perbedaan etnispun senantiasa banyak menimbulkan masalah dalam pernik berkeluarga, bahkan sampai cerai. Seharusnya semakin tinggi pengenalan manusia akan Tuhan dan firmannya, semakin arif dan bijaklah ia. Sebab Firman Tuhan itu mengajarkan kepada kita tentang ati kasih yang sejati. Tidak ada artinya kasih terhadap Tuhan, sementra kasih diantara manusia dengan manusia, kasih antara manusia dengan alamnya, terabaikan. Terima kasih

  2. ida

    Bagaimanapun, apapun alasannya adalah lebih baik menghindari pasangan / calon pasangan yang berbeda keyakinan, perbedaan keyakinan adalah perbedaan yang paling prinsipil dan tidak / susah untuk diadaptasi, kalo pun dipaksakan akan tidak baik jadinya. anaknya nanti kebingungan dalam memilih agama orang tuanya dan masalah-masalah lainnya.
    jangankan yang berbeda agama, yang seagama pun proses adaptasi nya suka terkadang terjadi perselisihan. Jadi akan lebih baik meski pun ‘in the name of Love’ hindari sajalah, toh masih banyak wanita / pria yang baik2 , ganteng2 , cakep2 ;) tanpa harus beda agama,asal memenuhi 3 kriteria aja lah minimal ( 3B ) = Brain , Beauty, Behaviour … ;) .

  3. yabezz

    aku TIDAK SETUJU BANGET,karena dari pernikahan Tuhan sebenarnya punya rencana yang luar biasa bagi kita umat pilihanNYA.Dia pengen keturunan kita nanti yang menjungkirbalikan dunia,menjadi alatNYA yang dashyat… dan itu bisa terjadi hanya dari pernikahan kudus,dan syaratnya yang utama yang pasti haruslah sama2 anak Tuhan dong,bukan hanya kristen KTP tapi Kristen sejati….

  4. Dendi

    Dengan perbedaan Agama, bagaimana hukum dan agama (syah/tidak) jika sebelumnya dilakukan pernikahan secara KUA bberapa bulan kemudian melakukan pernikahan sipil/gereja dengan orang yang Sama?Apakah perkawinan harus dibatalkan jika YA bagaimana dengan Akte Kelahiran Anak.

  5. Marhaennia

    Well.. Meskipun saya terlahir dari keluarga penganut Islam, tapi saya pribadi tidak menentang pernikahan berbeda keyakinan. Alasannya adalah untuk tidak menjadikan agama sebagai basis untuk menilai atau bahkan memutuskan seseorang itu baik atau tidak, benar atau salah. Bagaimana jika memang Tuhan YME yang memang mempertemukan pasangan yang berbeda keyakinan ini?? Saya rasa agama yang sama tidak akan selamanya menjamin kelanggengan suatu hubungan, entah itu hubungan sosialisasi antar manusia dalam suatu komunitas atau hubungan pernikahan. Jika kita hanya menekankan kenegatifan dalam suatu pebedaan, maka hasil yang akan keluar adalah sama negatifnya, atau lebih parah. Saya harap Negara tercinta kita ini, INDONESIA, akan lebih peka terhadap perbedaan-perbedaan yang memang sudah kita miliki sebagai bangsa, perbedaan suku, etnis, budaya, dan agama.. Kita mengagungkan UNITY IN DIVERSITY, alias PANCASILA.. so why can’t we even unite in diversity as in religion difference??? Semuanya tergantung pada faktor manusia sebagai pribadi. Kalo memang penjahat mah penjahat aja, mau Islam, Kristen, Katolik, Hindu atau Budha.

  6. rifai

    manusia diberi akal budi oleh Tuhan, akal budi digunakan untuk menentukan apa yang akan dilakukan dan resiko dari apa yang dilakukan. kalau kita percaya kepada Tuhan dan yakin Tuhan itu ada, maha segala-galanya, maka dia maha mengetahui segala sesuatunya. Ada bermacam-macam Agama dan aliran kepercayaan, Tuhan tentu tau akan hal itu, dan kita dipercayakan untuk mengolah semua itu dengan akal budi. Kenapa kita saling membedakan tentang keyakinan kita ? Saya muslim, saya akan melangsungkan perikahan dengan kekasih saya yang nasrani, dan dengan akal budi saya, saya meyakini perbedaan agama bukanlah penghalang dan bukan masalah kalau kita coba memahami akan Kasih Ilahi yang ada dalam agama untuk manusia.
    Herannya para pemuka agama kini telah lebih hebat dari Tuhan, melarang hal-hal yang sebenarnya di perbolehkan di Aturan agama yang diyakininya.
    saya menjadi ragu akan makna mereka menjadi pemuka agama, apakah ingin membantu umatnya mencapai keselamatan atau hanya takut kehilangan umat yang ujung-ujungnya mereka tidak akan di dengarkan lagi oleh umat.:-w:o

  7. diandra

    Kita tidak bisa memilih akan jatuh cinta dan berjodoh dengan siapa. Saya (Kristen)tahun depan berencana akan melangsungkan pernikahan dengan tunangan saya (Muslim). Saya percaya bahwa melangsungkan pernikahan adalah sebuah niat yang suci dan untuk sebuah niat yang suci, Tuhan pasti akan sediakan jalan. Kami akan menikah secara Islam. TApi kami tetap pada keyakinan masing2. Terlepas dari itu semua,saya percaya bahwa Tuhan itu satu. Jadi tidak ada salahnya hidup dengan pasangan yang berbeda agama dengan kita. Karena kita sesungguhnya hanya menyembah satu Tuhan. :) >-

  8. dikson kristian

    menurut saya perkawinan beda agama sebenarnya tidak bisa dilakukan karena mengingat agama sendiri adalah keyakinan sekaligus juga prinsip hidup yang tidak bisa kita paksakan terhadap orang lain..
    apabila seseorang melakukan perkawinan berbeda agama maka dari segi prinsip hidup atau keyakinan saja sudah berbeda.
    resikonya adalah ketika mereka mempunyai anak atau ketika mereka bercerai maka akan terjadi kesulitan kesulitan yang akan dihadapi dalam penyelesaianya

  9. Raz

    A’kum semua

    islam sudah menjelaskan kesemuanya di dalam al-quran dan nabi kita juga telah menyatakan segalanya melakui hadis2. walaupun saya sendiri banyak kekurangan dan banyak mengabaikan kewajipan saya, tapi Alhamdulillah..saya amat jelas sekali dengan islam dan memahami kewajipan as muslim.

    Memang benar seseorang muslim itu bukan saja harus namun wajib berkahwin dengan pasangan yang beragama islam. Itu adalah syarat nikah yang paling utama di dalam islam. tidak ada pertikaian lagi. sekiranya seseorang muslim itu benar2 mengamalkan ajaran islam tanpa mengambil mudah, maka tidak ada apa yang harus diragui, dipertikaikan, dinafikan tentang apa yang dituntut oleh Allah Ta’ala. Bagi saya seseorang muslim itu bukan muslim sejati kiranya dia melanggar syarat2 yang penting di dalam islam. Saya lebih rela dihukum Tuhan kerana dosa meninggalkan solat dari terus dibuang Allah kerana menolak perintahnya seperti hal yg besar iaitu berkawin beda agama.

    wahai saudara dan saudari muslim yang saya kasihi,

    ingatlah satu perkara….mengahwini pasangan beda ugama itu, secara automatik kita terkeluar dari islam.

    harap kalian ngerti

  10. rfauzia

    aku pernah berpacaran dengan orang yang berbeda agama, tadinya sempet berpikir untuk menikah walopun beda agama. tapi yang menjadi pemikiranku adalah masalah dengan anak-anak yang nantinya lahir dalam lingkungan dua agama. kalau ntar anakku lahir mau dimasukin ke agama apa donk?! ke agamaku ato agama pasanganku?! apa bisa segampang itu untuk memutuskan agama yang akan dianut oleh anak kita? apa kita berhak tuh memutuskan agama yang akan dianut oleh anak kita begitu saja?

    ada yang membuat perjanjian dengan pasangannya klo anak ke 1 masuk ke agama ortu yang satu, trus anak ke 2 masuk ke agama ortu yang satu lagi…ada juga yang perjanjiannya klo anak cewek masuk ke agama ibu dan anak cowok masuk ke agama ayah ato sebaliknya.. dan bentuk perjanjian yang lainnya :-?
    rasanya kok seperti mempermainkan agama untuk anak kita yah?!
    klo harus ngajarin ke-2 agama bagi anak kita apa gak blow out tuh kepala anak karena overload dari kecil mendapat informasi yang buanyak banget tentang kedua agama?:o

    aku akhirnya memutuskan untuk menyudahi hubunganku dengan pacarku. apa karena aku lemah? YES YES YES!! aku menyadari bahwa aku PASTI MEMILIKI kekuatan untuk menjadi istri yang baik bagi cowokku itu… itu gak pernah kuragukan… tapi aku juga menyadari bahwa aku TIDAK MEMILIKI kekuatan untuk membesarkan anak2ku dalam lingkungan dua agama…

    so guys… klo emang mau melakukan pernikahan beda agama bukan cuma kalian berdua aja yang dipikirkan tapi rencana tentang anak juga harus dipikiran mateng2! silakan aja melakukan pernikahan beda agama kalo kalian udah punya keyakinan kuat akan itu… who am i to judge you?!

    tp satu yang pasti, bener apa yang dituliskan oleh bhina.. pengalamanku ini memang menjadi sarana refleksi diri mengenai kualitas pemahamanku mengenai agamaku :d

  11. Ferry

    Kalo udah ngomongin perbedaan prinsip wah ruwet banget, tapi selama ini gw yakin apa yang telah terjadi adalah juga campurtangan Nya… 2 kali gw hubungan dengan wanita muslimah, berbagai rintangan dari kedua belah pihak selalu mendera…cape seh tapi gw selalu yakin ni semua Campurtangan Nya.
    Well saat ini saat yang berat buat hubungan kedua gw, bukan gw gak mu belajar dari hubungan lalu tapi gw gak ngerti ngapa ni semua terjadi kalo bukan kehendak Nya.
    Selama qta yakin dan teguh pasti suatu saat akan ada jalan…

  12. winbay

    Gw punya cerita mengenai hubungan beda agama yg dialami oleh paman gw sendiri; jadi ketika itu paman gw (muslim) berpacaran dengan perempuan batak (katolik), pada saat itu paman gw udah berusia cukup untuk menikah dan memang sedang dikejar deadline untuk menikah (umurnya sekitar 29 thn); lalu si calon tante gw ini oleh pihak keluarganya pada waktu itu di tentang habis2an (apalagi bapaknya pendeta) bahkan pernah diungsikan. ttp karena kegigihan paman gw mengejarnya akhirnya si calon tante gw berpikir untuk menikah.
    Pada akhirnya mereka menikah secara islami, dan alhamdulilah tante gw yg org batak ini masuk islam, yg sekarang setelah 25 thn pernikahannya si tante gw ini bisa dikatakan islam-nya lebih kuat dibanding paman gw.

    Dari kisah itu gw terinspirasi, karena sekarang gw (beragama islam) sedang menjalani hubungan dengan wanita kristiani/protestan. Kami berdua saling suka dan menyayangi yang sangat kuat :x . Kami yakin kalau hubungan kami nanti bisa berhasil sampai ke pernikahan dan bisa hidup berdua bersama selamanya.
    Dan kelihatannya sekarang keluarga dari pacar gw ini sudah mulai memperlihatkan reaksi ketidaksetujuannya atas hubungan kita, tp atas dasar inspirasi dari paman gw itu gw nekat menjalani hubungan ini trus dan gw mau buktikan kepada keluarga gw kalo gw bisa membangun sebuah keluarga yg sehat dan insyaAllah nantinya pacar gw bisa mendapatkan hidayah untuk masuk islam.

    Mohon kritikannya…..

  13. fe

    aku sudah nikah secara beda agama.dan waktu acara pernikahan kami, aku mengikuti proses secara islam tapi setelah itu hatiku bergolak dan tidak bisa mengikuti ajaran yang baru. aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku rindu pada gereja. bagi kita berdua setelah menikah aku mengutarakan pada suamiku bahwa aku tidak bisa mengikuti ajaran agamanya, dia menerimanya tapi dia takut terhadap keluarga besarnya yang notabene fanatik, sehingga kami harus terpaksa bercerai. Kami berdua sebenarnya masih sayang dan slaing mencintai terlebih pada buah hati kami, tapi mengapa sebuah perkawinan antara dua insan hancur berantakan karena pengaruh dari faktor eksternal yang sangat kental masuk dalam hubungan perkawinan, mengapa prinsip/tradisi keluarga bisa masuk dalam sebuah perkawinan, apakah poligami dihalalkan padahal itu sangat merugikan kaum hawa?????. Padahal sesuatu yang telah disatukan TUhan hanya bisa diceraikan oleh Tuhan juga, apakah manusia bisa kuasa begitu juga…..

  14. dwi

    kalau menurut saya pernikahan itu udh ditentukan sama tuhan karena tuhan pasti udh merencanakan hal yang sudah direncanakannya dan manusia tidak dapat menentangnya , dan tuhan pasti akan mempunyai maksud lain yang tanpa diketahui oleh umatnya masing2 dan manusia hanya bisa menerimanya dan menjalankannya

  15. chimutz

    kalo menurutku sih yang jadi masalah bukan beda agamanya, tapi bisa ga dengan perbedaan itu kedua pasangan berkomitmen untuk hidup bersama serta dalam membesarkan anak2 mereka..beda agama sah2 aja,cm masih bingung ma syarat melegalkannya..pernikahan yang dilandasi oleh suatu perbedaan (entah agama, ras, golongan,dll) tentunya menuntut sebuah tanggung jawab yang lebih besar..sekarang tinggal pribadi masing2. bisakah memikul tanggung jawab itu..kalo ga mampu ya mending ga usah..tapi kalo mampu salutttt bener…banyak kok pasangan beda agama yang akur2 aja..malah justru bisa membesarkan anak2 mereka secara bijaksana diatara perbedaan yang ada

  16. aliza

    Pernikahan beda agama bukan hal yang harus dibesar-besarkan itu tergantung individu masing-masing. saya muslim hampir saja saya menikah dengan pria turunan cina yang katolik. mulanya hubungan kami di tentang ortu saya yang notabene islam fanatik, tpi pacar saya mulanya mau mempertahankan hubungan ini sampi akhir bahkan siap jadi mualaf tapi pas dia sampaikan niatnya kepada orang tuanya malah ditentang abis soalnya ibunya malu sebab di dulunya muslim yang karena perkawinan masuk katolik, entah apakah itu satu-satunya alasan atau ada hal lain, mengenai itu Allah hu alam. tapi dari kesemua itu saya dapat kesimpulan bahwa kita harus lebih arif dan bijak sana dalam mensikapi segala persoalan jangan hanya karena emosi atau nafsu sesaat kita membenarkan semuanya. perbedaan pada dasarnya diciptakan Allah untuk menyeimbangkan alam agar kita sebagai anusia bisa saling menghargai satu sama lain dalam cinta maupun persahabatan. cinta adalah anugrah yang diberikan Allah tanpa memandang segala perbedaan, ruang maupun waktu. jodoh dan rejeki itu sudah diatur Allah. Jadi jangan pernah menyangkal dengan dalih apapun jika Allah memberikan rasa itu. biar Allah yang ngatur segala sesuatu yang terjadi didunai. saya pun dapat pelajaran berharga untuk lebih mendalami agama yang saya anut dengan universal suapaya cakrawala pikiran kita lebih terbuaka. dan menghormati setiap keyakinan sebagai sebuah anugrah yang datang kesetiap hati seseorang. so bagi yang ingin menikah dengan dua keyakinan berbeda go on! tapi buka dulu cakrawala berfikirnya supaya keduanya bisa saling menghormati sebagai sesama umat tuhan.

  17. Derman Pasaribu

    Yang namanya membuat suatu hubungan itu pasti ada kesepakatan. klo kita tdk bisa, ya untuk apa di lanjutkan. toh, akan merugukan diri sendiri. yang jelas, jgn sampai kamu meninggalkan Tuhanmu, hanya karena pasangan kamu yg nga mau mendegar seruanmu..;)

  18. dewi malam

    agama memang tidak bisa memberi jaminan apapun, tapi cinta akan memberikan jaminan pasti, karena tuhan itu cinta..

    saya sudah menjalani pacaran beda agama selama 2 tahun, tahun depan insyaallah mau menikah, colon suami sy seorang katolik.

    memang sudah banyak referensi yg sy baca ttg pernikahan beda agama ini, tapi sy percaya, paling tidak sy masih meyakininya sampai sekarang kalo tuhan itu satu, agama hanya sebagai jalan menuju sang pencipta.

    agama akan berbeda kalo dilihat hanya dari syariat-nya saja, tapi tentu punya tujuan sama, komunikasi dg tuhan.

    masalah benar atau salah kita serahkan saja ke tuhan, biar tuhan yang menentukan, yg terpenting buat kami skrg adalah meyakinkan diri bahwa pernikahan ini mempunyai tujuan baik dan kita akan berbuat sebaik yg kita bisa. semoga tuhan mengampuni dosa-dosa kami dan memberikan jalan kemudahan.

    kalopun harus bertanya, sy cuma ingin menanyakan: apakah jodoh itu tuhan yang mengatur? kemudian ketika kami dipertemukan dalam sebuah ikatan cinta dengan perbedaan ini, apakah kami bisa disebut berjodoh? kalo kami berjodoh sampai maut yang memisahkan, kenpa tuhan mempertemukan kami yang beda agama…??? @#$%^&*()_

    darisini sy ambil kesimpulan bahwa tuhan itu sudah mengatur semuanya, perbedaan yang akan kita jalani hanya sebatas syariat agama saja, tapi tuhan kami satu, tuhan yang esa.

    doakan perkawinan saya nanti lancar ya teman-teman…. amiiiiiiin

  19. rizka

    sebenernya saat ini aq juga berpacaran dengan seorang kristiani. tp aq merunut pada pedoman hidupu saja sebagai umatNya (The Holy Qur’an):d jadi coba sama sama telusuri Al-Qur’an secara baik :x

  20. adisya

    pacaran beda agama itu rumit karena sekarang akupun menjalaninya, kadang aku berfikir apa harus mundur atau maju
    tiap malam hanya mampu berdoa agr allh Swt memberikan petunjuk yang terbaik… yang ku tau CINTA adalah karena tuhan jika tuhan tak berkehendak maka tak akan terjadi cinta
    entah benar atau tidak tapi yang pasti perasaan ini akan ku serahkan pada cintaKu yang kekal *** Allah SWT *** :) >-

  21. Rya

    Brawal dr iseng lmbt laun qu mulai jth cinta ma pcar gw yg brgama hindu,v udh jlaz qu d tntang ma kluarga gw..cinta smpt mmbutkn mata gw,gw tw cinta bkn suatu alazn bwt gw pndh agama,yg pzti gw kga maw kafir….n neraka sbgai gnjaran krn nafsu gw d dunia

  22. catharina

    Hmm…saya. Jg pny kekasih (muslim) yg ingin menikahi saya yg beragama (katholik). Mohon maaf kalau saya mengatakan cinta Tuhan itu universal, ia tidak melihat agama, suku, warna kulit atau apa saja, karena konon manusia ada dari adam dan hawa, sangat susah memang menyikapinya..yg saya ketahui bahwa agama itu menuju yg Esa, apakah diajarkan. Satu agama itu merendahkan atau melebihkan agama lain?? (Curhat nih) kau harus menikah dengan agama yg sama dia agamanya beda, padahal kita tinggal di bumi yg sama., lalu tertulis artikel jangan mengatas namakan cinta!! Iki itu aturan dr Tuhan!! Kamu akan masuk nerak…lalu cinta itu datang dari mana??????!!! Apa dr batu dipinggir kali….tentu cinta itu ada karna Tuhan Maha cinta….

  23. Diw

    saya (muslim) ingin menikah dengan pasangan saya (katolik), kami ingin menikah berbeda agama di Indonesia, ada yang tau informasinya? Mohon bantuannya. GOD is LOVE

  24. roselina

    bagaimana saya mendapatkan buku ini??
    saya sedang melalui hubungan serius yang merujuk pada pernikahan.. tapi pacar saya islam dan saya sendiri adalah katolik. sebenarnya secara katolik ti legalkan pernikahan beda agama dengan menggunakan hukum kanonik sebagai landasan pernikahan beda agama. mungkin dengan buku ini semakin menambah wawasan kami untuk memahami perbedaan ini.

Leave a Reply