inparametric.com

GNU/Linux | Behavior | Higher Education | SPSS | Statistics |




Category: Behavior

Kutipan favorit dari Mario Teguh

6 August, 2011 (08:47) | Behavior | By: Bhina Patria

Kabar baik bagi kita-kita yang nilainya pas-pasan :D.

“Orang-orang yang hebat itu rata-rata nilai sekolahnya tidak bagus-bagus banget.

Read more »

Kicking Academic Procrastination away!

11 May, 2008 (19:00) | Behavior, Pendidikan | By: Bhina Patria




Procrastination, there’s something strange about this phenomena. Sometimes I observe that students felt a little bit “proud” about this term. Sometimes it’s so “inspiring” for them… so they start to put it as their identity. I can see it in their IM status. Also in some social network service (like Friendster, Facebook or StudiVZ), they have some groups of people revered them self as a procrastinator… Yes it’s you! You don’t have to raise your hand. I know you… :D.

Don’t ask me why… I don’t know the answer, maybe because it’s sound so nice: procrastination… procrastination… :D

Procrastinating is basically delaying to do something that you should do until the last minute, if not totally abandoned them. There are some classifications of procrastination; one from Sapadin (1997) summarized it very well. According to Sapadin there are six styles of procrastination: the perfectionist, the defier, the dreamer, the crisis-maker, the overdoer, and the worrier. If you have access to the book, go and read them, it’s worth it! Next time I will post an article discussing these styles, if I’m not procrastinating again… just kidding. You know I already healed, right?

Academic procrastination is referring to procrastination which occurs in academic setting. To mention some examples: cramming all night before exam, asking for extended time for delivering paper, delaying cleaning that horrible dormitory room, delaying grading students paper (in the case of professors), etc. Sounds familiar right? This habit is really a huge problem in academic live, according to William Knaus, 90% of college students procrastinate. 25% of them are chronic procrastinators who end up not finishing their study or dropping out.

Actually everybody procrastinate for certain reason. like having too many things to do or a matter of priority. But most of us procrastinate just because feeling lazy; not motivated or just set the wrong priority. As it gets more chronic it could lead to feeling of guilt, depression and low self-esteem. Why did I mention about the wrong priority? As we know beside studying students usually also work somewhere for some extra pocket money. I observed that sometime students get so enthusiastic with their job and put their study aside. Maybe they argued that their job is so important, they can earn enough money not only for pocket money but also for supporting their live, and they start to belief that their job is more important than their study. One fact that I want to say is that the younger you are when you graduated is the better. A lot of graduate study confirms this fact. If you graduated there will be more opportunity out there: more challenging job, more salary, further education, etc. So stop delaying to graduate just because you belief than your condition now (as a student) is already good enough for you. Like Anthony Robbins said: don’t settle less than you can be!

OK now the important question: how can we kick this habit away? Here are some tips that I pick from here and there. Not really scientifically proven. But most of them work for me.


Read more »

Sekilas Neuro Linguistic Programming

15 August, 2007 (21:36) | Behavior, NLP | By: Bhina Patria

Oleh: Ronny FR Praktisi NLP
Pernahkah terlintas dalam piliran Anda, jika seandainya Anda dapat selalu memicu rasa percaya diri setiap saat Anda memerlukan? Pernahkan terbayang bahwa seorang yang memiliki fobia bisa disembuhkan kurang dari 2 jam? Pernahkan muncul keinginan agar setiap keinginan Anda akan lebih mudah dicapai dengan metode mental tertentu? Pernahkah terbersit pikiran agar anak Anda lebih mudah menyerap pelajaran dengan cara yang paling cocok baginya?

Jika Anda sudah pernah mendengar NLP, tentu pertanyaan diatas bukan suatu impian lagi. Saat ini NLP seolah tengah menjadi suatu bidang baru yang digandrungi oleh berbagai pihak di Indonesia. Mulai dari eksekutif papan atas, pengusaha, psikolog, dokter, olahragawan, dosen, bintang film, hakim sampai politisi. Namun, sebenarnya apakaah NLP itu?

Beberapa sumber menyatakan mempelajari NLP mirip dengan mempelajari manual otak manusia, terkadang disebut sebagai “people skill technology”, atau disebut juga “psychology of excellence”. Intinya adalah mengetahui bagaimana cara kerja otak agar seseorang bisa menjadi tuan atasnya, bukan menjadi budaknya. Sedangkan para penggagas NLP sendiri merumuskan NLP sebagai “The study of subjective experience”.

Neuro merujuk pada otak/pikiran, bagaimana kita mengorganisasasikan kehidupan mental kita. Linguistic adalah mengenai bahasa, bagaimana kita menggunakan bahasa dan pengaruhnya pada kehidupan kita. Programming adalah mengenai urutan proses mental yang berpengaruh atas perilaku dalam mencapai tujuan tertentu, dan bagaimana melakukan modifikasi atas proses mental itu.

NLP dimulai ketika seorang ahli Mathematika/ Computer Programming (Dr. Richard Bandler) dan seorang Profesor Linguistik (Dr. John Grinder) mempelajari keahlian sejumlah pakar dan terapis yang teramat sukses di berbagai bidangnya. Metode yang dipergunakan untuk mempelajari keahlian ini disebut sebagai: “modelling” (ilmu memodel). Tokoh-tokoh awal yang dimodel adalah: Fritz Perls (Gestald Psychotherapist), Virginia Satir (Family Therapist), Gregory Bateson (Anthropologist, cybernetics) dan Milton Ericson (Hypnotherapist).

Read more »

Bagaimana Behavioural Safety Mengurangi Angka Kecelakaan Kerja

14 August, 2007 (06:48) | Behavior | By: Bhina Patria

Seiring dengan berkembangnya dunia industri, dunia kerja selalu dihadapkan pada tantangan-tantangan baru yang harus bisa segera diatasi bila perusahaan tersebut ingin tetap eksis. Berbagai macam tantangan baru muncul seiring dengan perkembangan jaman. Namun masalah yang selalu berkaitan dan melekat dengan dunia kerja sejak awal dunia industri dimulai adalah timbulnya kecelakaan kerja.

Terjadinya kecelakaan kerja tentu saja menjadikan masalah yang besar bagi kelangsungan sebuah perusahaan. Kerugian yang diderita tidak hanya berupa kerugian materi yang cukup besar namun lebih dari itu adalah timbulnya korban jiwa yang tidak sedikit jumlahnya. Kehilangan sumber daya manusia ini merupakan kerugian yang sangat besar karena manusia adalah satu-satunya sumber daya yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apapun.
Kerugian yang langsung yang nampak dari timbulnya kecelakaan kerja adalah biaya pengobatan dan kompensasi kecelakaan. Sedangkan biaya tak langsung yang tidak nampak ialah kerusakan alat-alat produksi, penataan manajemen keselamatan yang lebih baik, penghentian alat produksi, dan hilangnya waktu kerja.

Jumlah kerugian materi yang timbul akibat kecelakaan kerja sangat besar. Sebagai ilustrasi bisa dilihat catatan National Safety Council (NSC) tentang kecelakaan kerja yang terjadi di Amerika Serikat. Di Amerika pada tahun 1980 kecelakaan kerja telah membuat kerugian bagi negara sebesar 51,1 milyar dollar. Kerugian ini setiap tahun terus bertambah seiiring dengan berkembangnya dunia industri di Amerika.

Pada tahun 1995 jumlah kerugian yang diderita oleh pemerintah Amerika sudah mencapai angka 119 milyar dollar. Pertumbuhan kerugian sebesar 67,9 milyar dollar selama 15 tahun merupakan angka yang sulit dibayangkan besarnya. Kerugian ini belum termasuk hilangnya korban jiwa yaitu setiap tahun 1 dari 10 pekerja tewas atau terluka dalam kecelakaan kerja.
Di Indonesia sendiri sangat sulit menentukan jumlah angka kerugian materi yang muncul akibat dari kecelakaan kerja. Hal ini karena setiap kejadian kecelakaan kerja perusahaan bersangkutan tidak berkenan menyampaikan kerugian materi yang mereka derita. Namun menurut catatan dari Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) pada tahun 1999 terjadi 27.297 kasus kecelakaan kerja, dengan jumlah korban mencapai 60.975 pekerja. Dari sejumlah korban tersebut terdiri dari 1.125 pekerja tewas, 5.290 cacat seumur hidup dan 54.103 pekerja sementara tidak bisa bekerja.

Read more »

Mengapa Peraturan Begitu Sulit untuk Dipatuhi

11 August, 2007 (15:04) | Behavior | By: Bhina Patria

Dari hari ke hari pelanggaran rambu-rambu lalu lintas semakin memprihatinkan. Selain bisa kita amati sendiri perkembangannya setiap hari, kecenderungan berkurangnya ketertiban pengguna jalan bisa kita lacak dari maraknya surat-surat pembaca di media massa yang isinya mengeluhkan keadaan ini.

Peraturan pada dasarnya dibuat dengan tujuan untuk mempermudah kehidupan manusia. Coba kita bayangkan bila di jalanan tidak ada peraturan, tidak ada rambu-rambu lalu lintas, dapat dipastikan setiap pengguna jalan akan berbuat seenaknya sendiri tanpa mau mengindahkan kepentingan orang lain.

Setelah peraturan dibuat ternyata tidak ada jaminan bahwa peraturan tersebut akan dipatuhi. Coba kita lihat kondisi di Indonesia. Rambu-rambu lalu lintas seakan hanya menjadi hiasan yang tidak memiliki makna apa-apa. Praktis hanya lampu lalu lintas saja yang di patuhi, itupun pada ruas jalan tertentu saja. Perilaku yang tidak tertib ini diperparah dengan pertambahan jumlah kendaraan yang sulit dibendung sementara jumlah pertambahan ruas jalan tidak mampu mengimbanginya.
Jika memang peraturan dibuat untuk mempermudah kehidupan manusia pertanyaan besar yang muncul adalah: “Mengapa peraturan tersebut sering dilanggar?”.

Lingkungan, Perilaku dan Konsekuensi
Manusia memang individu yang kompleks sehingga perilakunya juga tidak sederhana. Perilaku manusia tidak sekedar memperhitungkan untung dan rugi saja. Bisa jadi perilaku yang tampak merugikan dimata seseorang akan dianggap menguntungkan bagi orang lain. Bagaimana seseorang berperilaku, secara garis besar bisa dijelaskan melalui penguatan kontigensi (contigency of reinforcement).

Read more »