Kearifan dalam Transformasi Pembelajaran: dari Teacher-Centered ke Student-centered learning
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Wisdom is not the product of schooling but the lifelong attempt to acquire it.
Albert Einstein
Pengantar
Perubahan paradigma didorong oleh hasil analisis mutakhir yang menunjukkan
bahwa sistem yang dianut tidak lagi memberi hasil atau keuntungan yang memuaskan.
Perubahan paradigma membawa perubahan mindset, dan perubahan mindset membawa
implikasi operasional sejalan dengan tujuan yang akan dicapai oleh perubahan
paradigma. Apabila digambarkan sebagai suatu bagan alir, maka perubahan di satu titik
akan mempengaruhi aktivitas berikutnya, baik dalam aliran linear maupun paralel,
sehingga tampak gambar networking yang kompleks.
Kompleksitas networking tadi perlu dikelola secara efisien, terukur, terpantau, dan
terpadu agar tujuan perubahan paradigma dapat tercapai secara mudah dan ekonomis.
Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan penataan ulang organisasi yang di dalamnya
terkandung kearifan agar tidak terjadi benturan maupun selisih pendapat yang tajam, atau
untuk meminimalisasi masalah yang timbul sebagai akibat dari perbedaan pendapat.
Kearifan memerlukan sinergi dan keterpaduan intelligent quotient, emotional quotient,
dan spiritual quotient. Kearifan yang telah dimiliki oleh para staf senior perlu
diorganisasi dalam aktivitas yang rasional, mudah dipahami dan diikuti oleh orang lain,
serta menimbulkan inspirasi di kalangan para staf yunior dan para mahasiswa sehingga
tercipta suatu gerakan saiyeg saeka kapti, saiyeg saeka praya (bahu-membahu dalam satu
tekad yang bulat). Dapat dipastikan bahwa setiap langkah pembaharuan atau perubahan
akan menimbulkan gejolak; dalam hal ini diperlukan manajemen perubahan agar gejolak
yang timbul dapat diminimalisasi.
Unduh sebagai pdf…
E-mail subscription





