inparametric.com

GNU/Linux | Behavior | Higher Education | SPSS | Statistics |






Jenis-jenis Data: Seri Tutorial SPSS 01

14 August, 2007 (22:55) | Statistics | By: Bhina Patria | Viewed 6783 times

Tak bisa dibantah jika kita mengolah data statistik dengan komputer maka yang pertama kali terbayang adalah SPSS. SPSS memang salah satu program statistik yang paling populer di antara program lainnya. SPSS banyak digunakan dalam penelitian-penelitian sosial dan riset, yang sesuai dengan kepanjangan SPSS yaitu: Statistical Package for the Social Science. Walaupun sekarang singkatannya menjadi Statistical Product and Service Solution (karena fungsinya yang lebih berkembang) namun tetap saja SPSS lebih sering digunakan dalam penelitian sosial. Saat ini SPSS telah sampai pada versi 13. Tutorial SPSS ini hanya membahas kegunaannya dalam penelitian-penelitian sosial dan kalau masih sempat akan disinggung sedikit masalah survey.

Sebelum masuk pada tahap demi tahap tutorial SPSS, pengetahuan tentang jenis-jenis data dalam statistik adalah syarat utama yang harus dikuasai -ini menurut para ahli statistik. Pengetahuan tentang jenis-jenis data sangat menentukan metode yang akan digunakan dalam pengambilan data dan tentu saja alat analisis apa yang dibutuhkan oleh data tersebut agar lebih bermakna.
Jenis-jenis data ini bertingkat menurut tingkatan pengukuran. Saya biasa menyingkatnya dengan “NOIR” atau ”RION”. Jenis data tersebut adalah:

1. Data Rasio
Data rasio adalah tingkatan data yang paling tinggi. Data rasio memiliki jarak antar nilai yang pasti dan memiliki nilai nol mutlak yang tidak dimiliki oleh jenis-jenis data lainnya. Contoh dari data rasio diantaranya: berat badan, panjang benda, jumlah satuan benda. Jika kita memiliki 10 bola maka ada perwujudan 10 bola itu, dan ketika ada seseorang memiliki 0 bola maka seseorang tersebut tidak memiliki bola satupun. Data rasio dapat digunakan dalam komputasi matematik, misalnya A memiliki 10 bola dan B memiliki 8 bola, maka A memiliki 2 bola (10-8) lebih banyak dari B.

2. Data Interval
Data interval mempunyai tingkatan lebih rendah dari data rasio. Data rasio memiliki jarak data yang pasti namun tidak memiliki nilai nol mutlak. Contoh dari data interval ialah hasil dari nilai ujian matematika. Jika A mendapat nilai 10 dan B mendapat nilai 8, maka dipastikan A mempunyai 2 nilai lebih banyak dari B. Namun tidak ada nilai nol mutlak, maksudnya bila C mendapat nilai 0, tidak berarti bahwa kemampuan C dalam pelajaran matematika adalah nol atau kosong.

3. Data Ordinal
Data ordinal pada dasarnya adalah hasil dari kuantifikasi data kualitatif. Contoh dari data ordinal yaitu penskalaan sikap individu. Penskalaan sikap individu terhadap sesuatu bisa diwujudkan dalam bermacam bentuk, diantaranya yaitu: dari sikap Sangat Setuju (5), Setuju (4), Netral (3), Tidak Setuju (2), dan Sangat Tidak Setuju (1). Pada tingkatan ordinal ini data yang ada tidak mempunyai jarak data yang pasti, misalnya: Sangat Setuju (5) dan Setuju (4) tidak diketahui pasti jarak antar nilainya karena jarak antara Sangat Setuju (5) dan Setuju (4) bukan 1 satuan (5-4).

4. Data Nominal
Data nominal adalah tingkatan data paling rendah menurut tingkat pengukurannya. Data nominal ini pada satu individu tidak mempunyai variasi sama sekali, jadi 1 individu hanya punya 1 bentuk data. Contoh data nominal diantaranya yaitu: jenis kelamin, tempat tinggal, tahun lahir dll. Setiap individu hanya akan mempunyai 1 data jenis kelamin, laki-laki atau perempuan. Data jenis kelamin ini nantinya akan diberi label dalam pengolahannya, misalnya perempuan =1, laki-laki =2.

Ada lagi jenis data yang sering disebutkan dalam statistik yaitu data Parametric dan Non-Parametric. Jika “NOIR” adalah pembagian data menurut tingkatan pengukuran, pembagian parametric dan non-parametric dipengaruhi oleh karakteristik empirik dari data tersebut. Pengetahuan tentang batasan data parametric dan non-parametric ini sangat penting karena pada proses analisis memang dibedakan untuk masing-masing jenis data tersebut.
Suatu data disebut sebagai data parametric bila memenuhi kriteria sbb (Field, 2000):

  1. Normally distributed data. Data yang mempunyai distribusi normal adalah data yang dapat mewakili populasi yang diteliti. Secara kasat mata kita bisa melihat histogram dari data yang dimaksud, apakah membentuk kurva normal atau tidak. Tentu saja cara ini sangat subyektif. Cara lainnya yaitu dengan melakukan uji normalitas pada data yang dimaksud –caranya akan dijelaskan lebih lanjut.
  2. Homogenity of variance. Varians dari data yang dimaksud harus stabil tidak berubah secara sistematis pada keseluruhan data. Kita bisa mengetahui homogenity of variance dengan melakukan tes tertentu. Untuk jenis-jenis analisis tertentu SPSS secara otomatis menyertakan hasil tes ini.
  3. Interval data. Data yang dimaksud minimal merupakan data interval.
  4. Independence. Data yang diperoleh merupakan data dari tiap individu yang independen, maksudnya respon dari 1 individu tidak mempengaruhi atau dipengaruhi respon individu lainnya.

Karena keterbatasan, saya tidak bisa menjelaskan lebih mendalam, kalau dirasa kurang jelas silakan cari buku statistik yang membahas hal ini lebih lanjut .

Sumber utama: Field, A. 2000. Discovering Statistics Using SPSS. US: Sage Publication.

Artikel ditulis tahun 2004

Downoad as PDF

Comments

Pingback from WitH s0 MaNy tHin9 I aM :: Analisis pada Value Label2 :: August :: 2007
Time: August 24, 2007, 8:13 am

[…] sudah dibahas mengenai penggunaan data nominal dalam analisis uji beda. Selanjutnya data nominal juga dapat diikutsertakan pada analisis regresi. […]

Pingback from WitH s0 MaNy tHin9 I aM :: Analisis pada Value Label :: July :: 2007
Time: August 24, 2007, 8:17 am

[…] gak bisa diitung) yang dikuantitatifkan dalam bentuk angka. Kalo data kualitatif tersebut merupakan data ordinal, seperti misalnya dalam kusioner (setuju, ragu-ragu dan tidak setuju) masih dapat dilakukan […]

Comment from lilis
Time: September 27, 2007, 8:53 am

saya pingin tanya mengubah data ordinal menjadi data interval dengan menggunakan metode succesive interval itu gimana ya caranya?

Comment from ana
Time: December 6, 2007, 12:49 pm

bisa bantu saya…gimana caranya melakukan transformasi data interval untuk menormalkan data yg tdk terdistribusi normal?
Terimakasih

Comment from RIA SONDANG
Time: January 19, 2008, 5:03 am

Tolong bantu saya, saya punya sekelompok data yang tidak berdistribusi normal,data kuantitatif. Saya sdh coba mengelompokkan data dan mencari rata-ratanya, setelah kenormalan untuk rata-rata ini pun tidak berdistribusi normal. Padahal, saya harus secepatnya menganalisa data ini…Please tolong infonya yah… Thanks a lot.

Comment from bhina
Time: January 19, 2008, 9:35 am

setahu saya jika data kita tidak terdistribusi normal berarti data kita bukan data parametric (data non-parametric). untuk data non-parametric kita bisa melakukan analisis2 yang termasuk dalam non-parametric test. prinsip dari non-parametric test adalah analisisnya dilakukan pada data rangking dari data asli kita. jadi nilai terendah dari data kita diberi rangking 1 dan nilai yang selanjutnya kita beri rangking 2, begitu seterusnya. contoh non-parametric test: mann-whitney dan wilcoxon. semoga bs membantu :)>-

Comment from ika yuspisari
Time: March 10, 2008, 9:47 am

saya telah melihat beberapa skripsi. tapi sampai sekarang saya masih belum mengerti, mengapa data ordinal diubah menjadi data interval? mohon bantuan jawaban yang sejelas-jelasnya. sebalumnya saya ucapkan terima kasih.:)

Comment from bhina
Time: March 10, 2008, 4:12 pm

wah sy jg kurang tahu pasti mbak. tp menurut sy dalam penskalaan psikologi itu biasa dilakukan (sy asumsikan mbak membaca skripsi psikologi). tp bukan data ordinal yg “diubah” menjadi interval, tapi data ordinal yang “diperlakukan” sebagai data interval. masalahnya kalau itu data ordinal kita tidak bisa melakukan operasi aritmetik atau perhitungan matematik -yang hanya bisa dilakukan pada data interval dan rasio. Nah berdasar pertimbangan ini jarak antar atribut di data ordinal di berlakukan sebagaimana spt data interval, atau dengan kata lain data ordinal tersebut diperlakukan sebagai data interval. gitu mbak… tambah jelas ato tambah bingung?

Comment from fey
Time: April 16, 2008, 5:16 am

bisa tolong bantu jelasin cara baca wilcoxon ga?trus beda pearson dan spearman apa?saya punya data ordinal tapi saya pakai uji validitas korelasi pearson salah ga c?krn harusnya pake spearman ya?thanx

Comment from pal
Time: April 16, 2008, 1:37 pm

mas, kalo menggunakan analisis diskriminan apa uji asumsi klasik hrs dipenuhi semua agar penelitian yg dilakukan menghasilkan output yg valid?
bgmn kalo yg diuji normalitasnya saja?

Comment from ferry kusmanto
Time: May 3, 2008, 8:41 am

mas, kalo udah pakai analisis faktor dan regresi berganda, apakah juga perlu dianalisis pakai uji asumsi klasik? itu kan tujuannya sama

Comment from srina
Time: May 13, 2008, 9:02 am

halo, saya mau tanya:
bagaimana cara menormalkan data yg tdk normal dengan sistem spss?
saya sdh mencoba uji Kolmogorov-Smirnov, tp hasil Sig-nya .000 yg berarti data tidak normal. atas bantuannya saya ucapkan terimakasih.

Comment from rini
Time: May 21, 2008, 8:10 am

boleh tanya ga?klo datanya ga normal perlu diuji homogenitasnya ga?pke apa?thanks ya

Comment from rini
Time: May 21, 2008, 8:27 am

oiya, klo jawab pertanyaanqu yang tadi tolong ke emailqu ya.ryynee@yahoo.com cos aq suka lupa alamat ini.thakns

Comment from siska
Time: June 16, 2008, 8:22 am

hie hei,,saya mw minta tolong,saya mina tolong beri saya contah data rasio yang dapat diturunkan menjadi data interval,nominal.trims:d/

Comment from Bhina Patria
Time: June 16, 2008, 1:11 pm

misalnya data tentang gaji dalam rupiah (data rasio), dibuat saja kategorisasi seperti gaji tinggi, gaji sedang, gaji rendah. atau range gaji 500.00-1 juta; 1-1.500rb; dll… klo dikategorisasi level datanya jadi turun. :)

Comment from fawzi
Time: June 18, 2008, 3:12 pm

tolong kasih saya contoh data kuantitatif dong..

Write a comment





:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »